Kotak Kejutan: Dari Seorang Sobat Hingga Si Jejakpena
29 04 2008My momma always said, “Life was like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get,” kata Forest Gump mengutip kata-kata bijak ibunya. Kata-kata yang keluar pada saat Mrs. Gump, ibunya itu, sekarat dan bicara dengannya. Dialog itu sendiri begini:
Mrs. Gump: “I happen to believe you make your own destiny. You have to do the best with what God gave you.”
Forrest Gump: “What’s my destiny, Mama?”Mrs. Gump: “You’re gonna have to figure that out for yourself. Life is a box of chocolates, Forrest. You never know what you’re gonna get.”
Bagi saya, film keluaran tahun 1994 itu merupakan salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Tapi, kata kotak kejutan lebih saya sukai daripada kata sekotak coklat itu. Bukan saja karena saya tidak terlalu gemar coklat seperti nona pemuja coklat yang satu ini, namun karena bukan sekali-dua kali saya memang sering mendapatkan kejutan-kejutan yang membuat saya takjub pada skenario hidup yang tidak mudah untuk ditebak jalan ceritanya ini.
Sebenarnya saya agak malas menulis postingan terlalu cepat begini. Tapi terbukanya (lagi!) salah satu kotak kejutan hidup untuk saya itu yang membuat saya ingin menulis postingan ini…
Begini…
Di akhir bulan Februari yang lalu, kotak kejutan bernama HIDUP ini sudah memberi saya kejutan tentang identitas seseorang, yang membuat saya kaget. Dan kemarin sore, kembali sebuah kotak kejutan dibuka di hadapan saya dengan memberi kejutan yang nyaris sama: sebuah identitas anonymous yang terbuka dan memberitahukan saya bahwa salah satu blogger yang saya kenal, bukanlah orang asing bagi saya.
Jadi, apa isi dari dua kotak kejutan yang dibukakan untuk saya itu?
Kejutan Pertama: Anak Bupati Yang Menyimpan Identitasnya
Saya sebenarnya tidak terlalu mengikuti perkembangan di kabupaten Aceh Selatan – yang dulu merupakan kabupaten saya sebelum kemudian pisah menjadi kabupaten Aceh Barat Daya – pada saat Pemilihan Kepala Daerah di kabupaten penghasil pala tersebut. Saya mengikuti perkembangan situasi-kondisi di sana cuma melalui surat kabar atau dari obrolan teman-teman saya yang berasal dari kecamatan-kecamatan di sana, misalnya dari Reporter tak resminya Liverpool, yang memang berasal dari kecamatan Labuhan Haji Timur, Aceh Selatan. Itu pun Si Unofficial Reporter tidak terlalu fokus mengikutinya.
Berita yang dikategorikan fresh from the oven paling kami terima dari satu komplek di kawasan kampus Darussalam dimana beberapa oknum sobat dan kenalan kami bertempat-tinggal. Salah satunya sobat dekat saya Si Gitaris Ceking: teman satu angkatan di kampus dulu, sekaligus lead guitar di band lama yang sudah mampus vakum. Anak ini pernah saya sebut di postingan saya ini.
Bocah yang satu itu saya kenal tidak seperti kebanyakan rekan-rekan saya yang mau berkecimpung dalam urusan berbau sosial-politik. Cenderung menghindar dan lebih nyaman berurusan dengan gitar, studio musik atau dunia komputer. Atau lebih suka pusing sendiri memikirkan kemungkinan ditendang dari kampus seperti yang saya dan Salman alami
”Politik sucks!” katanya sekali waktu, yang diekspresikannya dengan nguap-nguap atau pura-pura bengong seakan ada cecak sedang sakaw di dinding, jika yang lain ngobrol berbau politik. ”Omongan politik cuma acceptable di studio, itu pun kalau kau nge-rap macam Homicide atau RATM!”, demikian fatwa sahihnya keluar sekali waktu
Hingga kemudian, menjelang pelantikan pasangan bupati dan wakil bupati yang menang dalam Pilkada tersebut, sebagai bupati dan wakil bupati Aceh Selatan di akhir bulan Februari - saya dan kawan dekat saya itu (ya, Si Gitaris Ceking itu!) singgah di warung nasi di kawasan Darussalam. Bicara kesana-kemari setelah makan siang, obrolan berkembang dari apa yang saya dan kawan-kawan lakukan di daerah asal saya, hingga ke Pilkada di Aceh Selatan itu.
Saya mengatakan padanya bahwa terkadang ada konsekuensi tidak menyenangkan jika berhadapan dengan lingkaran setan kerabat sendiri dalam birokrasi pemerintahan. Ia mencengir masam. Makin masam ketika saya mengatakan bahwa bisa jadi ia harus mengalami sendiri konsekuensi demikian nantinya. Mungkin dalam birokrasi baru Aceh Selatan yang akan dilantik itu. Kalau memang tidak cocok pada kebijakan yang menyangkut rakyat banyak, meskipun kerabat sendiri pun di dalamnya, lawan saja, kata saya.
Entah tersudut atau curiga bahwa saya curiga terhadapnya, bocah itu mengatakan rahasia yang disimpannya dari saya dengan pesan, ”Jangan bilang siapa-siapa…”
Bupati terpilih kemarin itu adalah ayahnya sendiri…
Kaget? Sangat.
Anak Sang Bupati? Saya sempat melongo beberapa detik. Ya, saya memang pernah curiga, ketika beberapa malam sebelum hari itu, seorang mahasiswa aktivis yang saya kenal dari kabupaten tersebut, begitu ramah padanya saat kami menikmati bandrek dan pisang goreng di jajanan malam kawasan kampus. Keramahan yang mengherankan (sekaligus menjijikkan kesannya) ketika menepuk-nepuk pundak teman saya itu sambil menyebut-nyebut ”Ini anak bapak… Ini anak bapak kita, Pak!” pada beberapa orang tua yang saya tahu adalah bagian dari salah satu tim sukses calon bupati saat itu.
Orang yang saya kenal itu adalah orang yang cukup sering melihat teman saya yang gitaris itu mampir di rumah saya, baik untuk singgah pulang dari kampus atau mau ke kampus, atau cuma main-main saja dengan gitar atau PC lama saya yang sudah dibenam air laut itu. Karena dulu, si penjilat ‘Orang Yang Ramah’ itu tinggal sekomplek dengan saya. Tapi tidak pernah saya melihatnya bicara seramah malam itu
Kecurigaan saya paling tinggi malam itu: Sobat saya ini agaknya anak tokoh dari lingkaran dalam Tim Sukses yang calon bupatinya menang itu…
Ternyata lebih dari itu: anak bupati itu sendiri. Sesuatu yang disembunyikannya dari saya selama hampir satu bulan. Bocah yang saya kenal sejak tahun 2000 tersebut, ternyata anak dari bupati yang justru saya ‘provokasikan’ untuk lawan jika nanti terlihat zalim pada masyarakat di sana. Meski demikian, saya katakan padanya bahwa saya tidak akan menarik ucapan saya tersebut karena pengakuannya itu. Dia cuma tertawa masam saja. Ya, kami saling kenal karakter satu sama lain. Untuk itu, saya pun tidak akan peduli meski dia sedang baca tulisan ini saat ini, dan berubah pikiran atas ucapan-ucapan saya itu.
Hanya saja, meski menghargai pilihannya untuk tidak mengungkap identitasnya selama itu, tetap saja saya kesal. Tega benar membiarkan saya bingung kenapa kawan-kawan menyebutnya “Pangeran” sambil tertawa, membiarkan saya menduga-duga apa sebabnya wajah-wajah yang lebih ramah muncul terhadapnya ketika kami keluar untuk keluyuran. Saya kesal!
Alasannya? Ia tak mau saya berubah dan menjadi penjilat atau segan bicara blak-blakan seperti biasa seperti sejumlah orang yang membuatnya jijik. Kejijikan yang dikemudian waktu, saat pelantikan bapaknya itu, di-sms-nya dengan ucapan, “orang-orang bermuka satu sak semen!”
Tapi kasus ini sudah usai. Setidaknya si Gitaris Ceking itu sudah puas saya ‘pijak-pijak’ atas dosa besarnya itu…

Kejutan Kedua: Dibalik Sosok Si Jejakpena
Untuk kejutan kedua ini, baru kemarin sore kejadiannya. Benar-benar kejutan yang membuat saya tercekat kaget, urung minum bandrek, dan semua mata memandang saya yang terpana selama berjam-jam!
Saya mengenal Jejakpena atau yang nickname-nya Hiruta ini, sekitar bulan Agustus tahun 2007. Ini adalah komen saya pertama di sana, yang dibalasnya dengan komen begini:
Yap. propaganda diterima. success submitted!
btw, salam kenal ya…
Berikutnya masuk ke Si Saya-nya Si Nona, dan memberi komen begini:
Hiruta?
Oke.. Oke… I dont care bout name, tapi… minta izin ditarik sambungan langsung jarak jauh, ya?*halahh… mau masuk tautan saja bebelit omonganku
*
Dan saya tidak pernah sadar bahwa yang namanya saya “I don’t care“-kan itu, bukan sosok yang tidak saya kenal. Bukan sama sekali. Hal yang baru saya sadari kemarin sore, setelah seseorang memberikan hint secara tidak sengaja. Hint yang membenarkan feeling saya bahwa Hiruta itu bukan orang asing.
Tapi saya terjebak permainan anonymous-nya yang memang pintar tersebut. Sebagai balasan komen saya diatas itu, apa jawabnya?
Wah, sila.sila. Makasih.
Saya tambah juga deh disini.
btw, komennya sempet diamankan Akismet lho.
Bayangkan! Bahkan komen saya sempat diamankan Akismet segala! Tanyaken apa?
*lirik Nona Hiruta*
Saya harus katakan pada orang yang tidak sengaja memberi hints tentang sosok cantik di balik nama Hiruta aka Jejakpena tersebut - bahkan pada Nona Hiruta itu sendiri - via SMS, saya benar-benar harus angkat jempol bahwa selama ini saya tidak pernah menyadari benar-benar bahwa yang saya sebut sister itu memang demikian adanya.
Dulu saya merasa dejavu *lirik lagi* ketika saya membaca komentar di bawah ini yang memicu saya menyebutnya sister kemudiannya.
Huehehe, Yak, I’m back, bro…
Kenapa? Gaya jawaban begitu bukan hal yang asing bagi saya. Apalagi pas kemarin saya tahu… Ya Tuhan! Saya sampai menyumpahi diri saya sendiri bisa sebodoh itu untuk tidak sadar-sadar. ![]()
Dan Hiruta? Hoo… saya harus mengatakan, “She’s smart!”
Ia pintar untuk menghilangkan jejak-jejak dirinya dengan jejakpena-nya tersebut. Tidak ada sama sekali hints dibagian awal blognya yang bisa membuat saya curiga.
Fffuih…kok bisa ya akhirnya saya tergaet ke wordpress. Padahal udah lama berkutat dengan yang itu. But, let`s try, yang baru dicoba tak selamanya tak disuka…xixixi…
tak nyambung ah…
But okay lah, jom tulis banyak-banyak kat sini…
Bagaimana saya bisa curiga padamu, Nona, kalau bahasa yang kamu pakai bahasa negeri tetangga? ![]()
Ah, ya… sementara waktu itu saya, dengan newradical.wordpress.com, sibuk ribut-ribut memaki FPI, saya bahkan tidak menyadari dari Jepang sana ada Hiruta dengan kesederhanaannya tersendiri menulis.

Sudahlah…
Meski kemarin saya kaget, benar-benar kaget, hingga brother saya ini tertawa, saya tetap senang bahwa Hiruta begitu hidup di dunianya sendiri, di balik anonymous yang memang tidak diharamkan. Ya, meski saya harus dengan kesal mengaku kalah
saya lega bahwa apa yang dulu saya anggap cuma intuisi atau dejavu belaka, ternyata tidak demikian.
Demikianpun, biar saja Hiruta tetap akan jadi Hiruta, bukan? Dan Jejakpena akan tetap meninggalkan jejaknya tersendiri.
Setidaknya, Nona… saya cuma bisa katakan, “Kamu menang…”
![]()
Tapi untuk itu saya juga harus katakan, Nona Hiruta, “Bunga sakura di Jepang kemarin itu memang membuat sosokmu tertutup… Tapi siapa yang akan lupa salju putih yang pernah kamu bikin, eh?”
Apapun, setidaknya saya disadarkan kemarin itu bahwa saya belum kehilangan seseorang yang pernah tegak di depan mata saya dulu dan mungkin sekali waktu nanti bisa jumpa lagi. Seseorang yang membuat saya bangga dengan kecerdasannya
Hidup memang kotak kejutan. Berbulan-bulan kotak itu tertutup, dan kemarin sore terbuka dengan isi yang mengejutkan. Untuk kali kedua dalam semester awal tahun ini…
kok kayak nonton drama ya?
Jejakpena… Kalau ga salah ingat, ini cewek yang pernah ngamuk-ngamuk karena saya nulis nama aselinya di blog saya… Bener yak?
jangan-jangan kamu ketemu hiruta ya??
’salju putih’?
bukankah lebih tepatnya, ‘butir salju’?

anyway, salam kenal~
halo nongol lg nih bro
jadi kamu lupa kalo itu sayah?
**yang mana tik?!!**
Ah, saya sempat tahu namanya cuma saya dah lupa lagi.
saya tunggu mbak hiruta aja dulu dah
bersalah MODE = ON
Ishh!! Jadi juga postingannya?!

Tapi ga nyangka juga, mister sebegitu kagetnya pas udah tahu. Huehehe… *mau ketawa besar*
ckckck… bener-bener deh satu orang ini.
Ahem. *serius*
Anda hanya kurang teliti, mister. Kalau ditilik seidkit lagi saja, sangat mudah mengetahuinya dari kapan-kapan.
Tapi kalahnya jadi dua kali lho, karena tahunya dikasi tahu, engga langsung tahu sendiri. Kan? Kan?

*terlempar-lempar*
@ manusiasuper
Iya…
@ yud1
Iya deh iya, ‘butir salju’ yang lebih tepat…
@ nekhrophone
*interogasi nekhrophone*
Whoaa… sini! sini!
Mari kita bicarakan, Nak…
tapi seorang jejak pena juga pernah berbuat kesalahan
iya kan sista? *lirik Hiruta sambil terkikik kikik mengingat komentar Amed di salah satu layanan bloging*
*peluk peluk jepe*
Lex… alamatmu ada ndak? bisa kirim ke aku? via imel aja deh…
@ itikkecil
Kaya nonton drama ya?
Tapi… ya begitu itu memang kejadiannya, Ra. Berbulan-bulan ndak nyadar kalo dua insan berlainan kelamin itu memang 
penipuhpunya identitas lain@ ManusiaSuper
Pernah kejadian begitu ya? Edisi kapan?!
@ cK
Ketemu? Ndak…
Sejak Si Nona Hiruta itu ke Jepang sampe detik ini ndak pernah ketemu lagi
@ yud1
*tersadar*
Ah iya! Harusnya nulisnya ‘butir salju’ ya?
Eh, pernah kenal jugakah rumah lamanya itu?
Salam kenal kembali
@ harr51
Kemana saja, bro? Sibuk pindahan rumah ya?
Ajak-ajak kalo kendurian 
@ -tikabanget-
Errr… itu yang scene yang mana? Yang episode lainnya ya?
@ danalingga
Dan kamu tidak memberitahukannya saat itu pada saya?! Sungguh menyesatkan™
*digorok*
@ nekhrophone
Silakan.
Syukurlah. Kamu sadar kalo kamu salah
@ jejakpena
Memang harus jadi, Nona
Ah, kamu sudah kenal siapa saya, kan?
*serius juga*
Lho? Saya benarnya udah coba meneliti saat itu. Tapi Nona saja yang pandai memanipulasi pikiran saya. Saya ingat, pernah kasi komen sementara kita ngobrol di Y!M. Ah… saya ndak sadar kalo status di Jepang bisa se-dangerous itu menyilapkan mata saya
Siapa yang ndak akan kaget? Hah? Hah?! HAH?!
Saya memang kaget!
Puwashh?? Puwassh??!
*ditendang*
Tapi… ya, saya ngaku kalah. Sebagai orang yang bijak
yang memang sudah diakui demikian, saya mengaku.Tapi hukuman utkmu tetap: denda berlaku kapan-kapan kita ketemu lagi.
Apalagi yang bisa saya bilang, Nona, selain bahwa itu anonymous terbaik yang pernah sukses membuat saya kecele.
*patah hati*
Betewe, tetap menulis ya. Saya senang tulisanmu udah makin bagus. Lha, saya saja ketipu begitu
@ Chiw
Ho?? Pernahkah??
Itu di
infotainmentmana?*penasaran*
Japri saja… Kirim ke alamat si Japri maksudnya …
*ngakak*
Eh, iya deh. Ntar tak sms-in
kebetulan, dalam perjalanan mencari sekeping kenangan; menemukan yang seharusnya hilang namun masih tertinggal, sisa-sisa butir salju sebelum luruh dalam genggaman.
~waks, kok jadi aneh gini bahasa saya?!
~silakan tanya langsung jejakpena untuk detailnya 
…..

Ntar ditanyakan langsung sama JP deh
wah saya pernah juga menanyakan jejak anonimnya si hiruta itu, soalnya penasaran
tanya si hiruta aja
tapi2 saya berhenti soalnya saya tau itu privasi dia 
Saya sih ndak pernah. Cuma curiga saja
Udah
Dan saya juga udah
diancamjanji ndak akan publish real-name sama identitas asli.Biar saja JejakPena tetap jadi JejakPena. Ntar kalo saya bongkar, traktiran saya bisa batal lho!
wuahhhh
se ahli itu kah hiruta dalam menjadi seorang anonim??
*salut*
terkejut jga!!!
ternyata si tante hiruta……..

@ grace
Ya. Pantas utk diucapkan salut, memang
orang sejenius saya saja ketipuh
@ almascatie
*kasi aer putih*
aer putihnya kasih insto dl

*.kabur dikejar almas
seharusnya celah kamar mandi ditutup saja
Jejakpena itu salah satu blog favorit saya Lex, salah satu blog yang masuk kategori Brilliant di greatnews saya. Tapi saya justru jarang komen di sana, nggak berani, hehehe…
Anyway, seperti Mansup, beliau memang amat ketat menjaga sensor nama nya itu hohoho… *Lirik blogroll saya*
ah…saya pernah ketemu hiruta kok..
dalam mimpi*mendadak kangen hiruta*
*sms*
@ Amed
Saya juga jadiin itu blog favorit, Bro.
Meski uda tau siapa orgnya :mrgreeen:Brillian? Jelas bagi saya.Hanya orang brilian yang bisa bikin saya kecele
Lha? Kenava?
Saya ndak akan ngubah ah! Saya komitmen demi denda
@ cK
cK sampe mimpi…
*curiga*
*makin curiga*
*ditabok cK*
@ chiw

*timpuk almas*
Muahahaha… *keingat juga*
@ yud1
Eeeh? yud1 bisa senyastra itu??
@ almas
hentikan panggilan itu!!
*ketinggalan*
Saya pernah mimpi ketemu cK karena beberapa blogger ikut tes CPNS…
*kangen cK juga*
@ cK
kok sama??